Skip to main content

Shila at Sawangan

sawangan

Dari Kubro ke Sugro, Shila Jadi Titik Temu Dua Wajah Sawangan

Pernah denger istilah Sawangan Kubro dan Sawangan Sugro? Belakangan ini, dua nama itu rame diomongin di media sosial. Istilah ini menggambarkan dua wajah kontras dari kawasan Sawangan, Depok—yang satu dikenal dengan kemacetan parah, sementara yang lain relatif lebih lancar. Namun di tengah dua dunia yang berbeda itu, ada satu titik yang menjadi jembatan sekaligus simbol perubahan: Shila. Kubro dan Sugro: Dua Wajah dari Satu Pintu Tol Istilah Sawangan Kubro dan Sawangan Sugro berasal dari arah keluar Tol Depok–Antasari (Desari) melalui pintu Tol Sawangan. Jika kendaraan keluar tol dan berbelok ke kanan menuju Parung Bingung, jalur tersebut dikenal sebagai Sawangan Kubro—karena kerap dilanda kemacetan parah. Sebaliknya, jika berbelok ke kiri menuju arah DTC atau Mampang, masuk ke wilayah yang disebut Sawangan Sugro karena relatif lebih lancar. Secara harfiah, “Kubro” dan “Sugro” berasal dari bahasa Arab: kubro berarti “besar” atau “utama,” sementara sugro berarti “kecil” atau “lebih ringan”. Warganet menggunakan istilah ini bukan untuk merujuk pada ukuran wilayah secara administratif, melainkan pada kondisi kemacetan. Sawangan Kubro mencakup Jalan Raya Sawangan, pertigaan Jalan Raya Keadilan arah Rangkapan Jaya, pertigaan Parung Bingung, Jalan Raya Muchtar, hingga kawasan Tugu Batu dan Bojongsari. Sementara Sawangan Sugro meliputi Jalan Raya Sawangan arah Depok Lama, persimpangan Mampang, dan Jalan Dewi Sartika. Kemacetan di Sawangan Kubro hampir terjadi setiap hari, bahkan hingga larut malam. Seorang warga bahkan mengaku pernah menghabiskan waktu dua jam hanya untuk mencapai pintu tol dari Simpang Tugu Batu. Shila: Titik Temu Antara Sawangan Kubro dan Sugro Di tengah kontras antara Sawangan Kubro dan Sawangan Sugro, hadir Shila sebagai titik temu yang mempertemukan dua sisi Sawangan. Shila at Sawangan adalah kawasan hunian modern terintegrasi yang berdiri di atas lahan seluas 130 hektare, dengan 26 hektar diantaranya berupa danau alami dan anak danau (creek) yang membentang dengan latar Gunung Salak. Kehadiran Shila at Sawangan bukan sekadar proyek perumahan biasa. Kawasan ini mengusung konsep eco-living dengan lebih dari separuh area—sekitar 55 persen—dialokasikan sebagai ruang terbuka hijau. Ini adalah jawaban atas kebutuhan hunian berkualitas di tengah pertumbuhan kawasan yang pesat—yang justru menjadi salah satu penyebab munculnya istilah Sawangan Kubro. Dengan akses yang menghubungkan kedua jalur—baik yang mengarah ke Sawangan Kubro maupun Sawangan Sugro—di Shila juga ada alternatif akses tol lain, yaitu tol Pamulang. jadi bisa menghindari titik macet yang sedang ramai. Dari Macet ke Pusat Keramaian Pemerintah Kota Depok sendiri telah mencanangkan Sawangan dan Bojongsari sebagai pusat bisnis dan keramaian baru alias “Margonda 2”. Anggaran hingga Rp100 miliar disiapkan untuk pembebasan lahan dan pelebaran Jalan Raya Sawangan, termasuk ruas Jalan Enggram–Pemuda yang ditargetkan rampung pada Desember 2026. Pelebaran ini diyakini mampu mengurangi kemacetan di kawasan Sawangan Kubro hingga 75-80 persen. Nah, di tengah proses transformasi Sawangan ini, Shila hadir sebagai titik balik yang keren banget. Dulu Sawangan cuma tempat yang kamu lewati sambil gemes lihat macet. Sekarang? Sawangan jadi spot nongkrong di depok yang bikin kamu pengen singgah dan betah.  Salah satu alasannya adalah Peninsula District, kawasan nongkrong hits di tepi danau. Ada Miro Matcha buat pecinta matcha, Roti Bakar 88 yang selalu bikin kangen, The Coffee Theory buat ngopi asik, sampai Gudeg Jogja Bu Djono yang bawa rasa Jogja ke Depok. Nggak cuma kuliner, di sini juga ada CasaComo, apartemen low-rise pertama yang desainnya kece dan viewnya langsung danau. Dibangun bareng pengembang Jepang, kualitasnya dijamin oke. Pokoknya, Shila adalah bukti kalau Sawangan sekarang bukan cuma tempat lewat, tapi tempat tinggal yang bikin betah. Temukan Titik Temu di Shila at Sawangan Shila bukan hanya titik temu antara dua jalur—Kubro dan Sugro. Shila adalah titik temu antara kemacetan dan kemudahan, antara masa lalu dan masa depan, antara kota dan alam. Dengan akses strategis ke Tol Sawangan dan Tol Desari, lingkungan danau yang asri, serta fasilitas lengkap yang mendukung gaya hidup modern, Shila menjadi destinasi hunian yang menjawab kebutuhan masyarakat urban. Tertarik menjadi bagian dari transformasi Sawangan? Temukan rumah impianmu di Shila at Sawangan. Cek informasi selengkapnya di shila.co.id dan saksikan sendiri bagaimana Shila menjadi titik temu dua wajah Sawangan.

rute transjakarta

Rute Baru Shila Sawangan–Lebak Bulus: Usulan Pemkot Depok untuk Perluas Akses ke Jakarta

Buat kamu yang setiap hari bolak-balik Depok-Jakarta, pasti sudah nggak asing lagi dengan rasanya macet di jalan. Tenang, kabar baik datang dari Pemerintah Kota Depok! Mereka baru saja mengusulkan tambahan rute Transjakarta baru yang bakal bikin perjalananmu ke Jakarta makin mudah dan nyaman. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah rute Transjakarta Shila at Sawangan–Lebak Bulus. Usulan 5 Rute Baru Transjabodetabek Pemkot Depok melalui Dinas Perhubungan (Dishub) telah mengajukan lima rute Transjakarta baru untuk memperluas konektivitas antara Depok dan Jakarta. Usulan ini sudah disampaikan sejak April 2026 dan kini masih dalam tahap pembahasan bersama Dishub DKI Jakarta serta PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Sekretaris Dishub Kota Depok, Aan Syurahman, menjelaskan bahwa empat dari lima rute Transjakarta yang diusulkan merupakan trayek baru, sedangkan satu lainnya merupakan penyesuaian rute (rerouting).  Berikut lima rute yang diusulkan Pemkot Depok: – Shila at Sawangan–Lebak Bulus (trayek baru) – Terminal Sawangan–Kuningan (trayek baru) – Terminal Depok–Cinere–Blok M (trayek baru) – Terminal Jatijajar–Terminal Kampung Rambutan (trayek baru) – Penyesuaian rute D21 Universitas Indonesia–Manggarai (sebelumnya Terminal Jatijajar–Manggarai) Kenapa Rute Ini Diperlukan? Penambahan rute Transjakarta ini bukan tanpa alasan. Tingginya mobilitas warga Depok menuju Jakarta setiap hari—baik untuk bekerja, menempuh pendidikan, maupun aktivitas lainnya—menjadi latar belakang utama usulan ini. “Banyak warga Depok yang bekerja atau beraktivitas di Jakarta. Karena itu, pengembangan rute ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sekaligus mengurai kemacetan,” jelas Aan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, juga merespons positif usulan ini. Menurutnya, layanan Transjabodetabek terbukti menjadi solusi dalam mengurangi kemacetan, khususnya bagi para komuter yang setiap hari melakukan perjalanan dari kota penyangga menuju Jakarta. Shila at Sawangan–Lebak Bulus: Rute yang Paling Dinantikan Dari kelima usulan rute Transjakarta tersebut, rute Shila at Sawangan–Lebak Bulus menjadi yang paling menarik perhatian. Mengapa? Karena rute ini akan menghubungkan langsung kawasan hunian modern Shila at Sawangan dengan pusat transit strategis di Lebak Bulus yang terintegrasi dengan MRT Jakarta. Bayangkan, kamu yang tinggal di kawasan Sawangan bisa langsung naik bus Transjakarta dari Shila at Sawangan menuju Lebak Bulus tanpa harus ganti kendaraan berkali-kali. Dari Lebak Bulus, kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan MRT ke berbagai tujuan di Jakarta. Rute Sawangan–Lebak Bulus sendiri sebenarnya sudah memiliki versi awal, yaitu Transjabodetabek D41 yang diresmikan pada Juni 2025 lalu. Rute D41 melintasi Tol Depok-Antasari (Desari) dari Terminal Sawangan menuju Halte Lebak Bulus dengan panjang jalur sekitar 37 kilometer. Waktu tempuhnya sekitar 70 menit saat tidak macet dan 150 menit saat jam sibuk. Tarifnya sangat terjangkau, mulai Rp2.000 pada jam 05.00-07.00 WIB dan Rp3.500 untuk jam selanjutnya. Nah, usulan rute baru Shila at Sawangan–Lebak Bulus ini akan menjadi penyempurnaan dari rute yang sudah ada, dengan titik awal yang lebih spesifik di kawasan Shila—sebuah kawasan hunian terpadu di Sawangan yang sedang berkembang pesat. Dukungan Infrastruktur dan Halte Baru Jika usulan rute Transjakarta ini disetujui, Pemkot Depok akan menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk pembangunan halte di sejumlah titik yang akan dilalui armada Transjabodetabek. Selain itu, tahun 2026 ini juga direncanakan pembangunan halte Transjakarta di pintu Tol Sawangan agar penumpang tidak perlu lagi menunggu di bawah terik matahari. “Penambahan halte pasti akan dilakukan sebagai bagian dari dukungan operasional. Namun saat ini kami masih fokus pada pemetaan dan penguatan usulan rute,” kata Aan. Manfaat bagi Warga Sawangan dan Sekitarnya Kehadiran rute Transjakarta baru ini akan memberikan banyak manfaat bagi warga Sawangan dan sekitarnya: – Akses lebih mudah ke Jakarta – Tanpa harus macet-macetan dengan kendaraan pribadi – Hemat biaya transportasi – Tarif Transjakarta jauh lebih murah daripada bensin dan parkir – Terintegrasi dengan MRT – Dari Lebak Bulus, kamu bisa langsung naik MRT ke berbagai tujuan – Mengurangi kemacetan – Semakin banyak orang beralih ke transportasi umum, semakin lancar jalanan – Ramah lingkungan – Mengurangi emisi karbon dari kendaraan pribadi Hunian Strategis di Shila at Sawangan Usulan rute Transjakarta Shila at Sawangan–Lebak Bulus dari Pemkot Depok adalah langkah maju dalam meningkatkan konektivitas antara Depok dan Jakarta, dan dengan dukungan dari Pemprov DKI Jakarta serta Transjakarta, rute ini diharapkan segera terwujud untuk memberikan kemudahan bagi para komuter. Hadirnya rute ini secara langsung meningkatkan value kawasan Shila sebagai hunian strategis yang terintegrasi dengan transportasi publik—bayangkan, Anda bisa tinggal di hunian modern dengan danau alami 26 hektare, fasilitas resort, akses 8 menit ke Tol Sawangan dan 10 menit ke Tol Desari, ditambah mobilitas ke Jakarta yang semakin lancar berkat tambahan rute Transjakarta langsung dari kawasan ini. Tertarik memiliki hunian di Shila at Sawangan yang strategis dan terintegrasi dengan transportasi publik? Cek informasi selengkapnya di https://shila.co.id/casa-como/ dan temukan rumah impianmu di kawasan yang siap mendukung gaya hidup modern tanpa macet!

Perumahan

Perumahan dengan Konsep Hijau: Belajar dari Shila at Sawangan

Pernah nggak sih kamu kepikiran, gimana rasanya tinggal di perumahan yang nggak cuma nyaman, tapi juga bikin bumi lebih sehat? Konsep hunian hijau (green housing) memang lagi menjadi tren di kalangan pengembang properti. Salah satu yang menarik perhatian adalah Shila at Sawangan, yang berhasil memadukan kehidupan modern dengan keindahan alam. Dari Lahan 130 Hektare, 55% Didedikasikan untuk Ruang Hijau Shila berdiri di atas lahan seluas 130 hektare. Angka yang cukup besar, tapi yang bikin beda adalah komitmennya terhadap ruang terbuka hijau. Lebih dari separuh kawasan—tepatnya 55 persen—dialokasikan sebagai ruang hijau yang asri dan sehat. Bayangkan, setiap kali kamu membuka jendela atau melangkah keluar rumah, yang terlihat bukan tembok beton atau atap rumah tetangga, melainkan pepohonan, taman, dan hamparan hijau yang menyegarkan mata. Ini bukan sekadar soal estetika, tapi juga soal kualitas hidup. Danau Alami dan Creek: Jantung Kawasan yang Menenangkan Keistimewaan lain dari Shila adalah keberadaan danau alami dan anak sungai (creek) seluas 26 hektare. Danau ini bukan sekadar hiasan, melainkan jantung kawasan yang hidup— dan menjadi pusat favorit bagi kamu yang suka untuk berolahraga, beraktivitas, atau sekadar menikmati keindahan alam. Latar belakang Gunung Salak yang menjulang megah menambah suasana semakin menenangkan. Setiap pagi, kamu bisa menikmati pemandangan danau yang berkilauan di bawah sinar matahari, atau sekadar duduk santai di Lakeside Walk yang menghubungkan seluruh area township seluas 102 hektar. Aktivitas ini bukan cuma bikin hati adem, tapi juga mendorong gaya hidup sehat dan aktif. Tipe Hunian yang Merangkul Alam Shila tidak hanya bicara konsep di atas kertas. Mereka mewujudkannya dalam desain hunian. Di Cluster Laguna, misalnya, ada dua tipe unggulan: Oakwood dan Verdant. Oakwood menawarkan rooftop pribadi yang bisa kamu sulap jadi taman kecil atau tempat bersantai sambil menikmati udara terbuka. Sementara Verdant mengusung konsep ruang lapang dengan high-ceiling setinggi 5 meter, skylight, dan floating stairs. Hasilnya? Rumah terasa lebih luas, pencahayaan alami melimpah, dan sirkulasi udara lebih lancar—tanpa perlu bergantung penuh pada AC atau lampu di siang hari. Peninsula District: Spot Nongkrong yang Selaras dengan Alam Salah satu hal paling keren dari Shila adalah bagaimana mereka menerapkan konsep hijau bahkan di area komersialnya. Peninsula District adalah pusat kuliner dan komunitas tepi danau yang punya 35 unit premium. Di sini, kamu bisa ngopi di The Coffee Theory, nyemil roti bakar, atau makan gudeg sambil menikmati pemandangan danau yang adem. Buat kamu yang suka nongkrong, ini adalah contoh kalo tempat nongkrong kekinian nggak harus berantakan atau panas-panas. Justru, dengan mengintegrasikan alam ke dalam ruang komersial, Shila menunjukkan kalo bisnis dan lingkungan bisa saling menguntungkan. Ini pelajaran berharga yang bisa kita bawa ke mana-mana: bahwa gaya hidup modern yang baik adalah yang tetap peduli pada alam. Kolaborasi Indonesia-Jepang: Standar Kualitas Global Salah satu faktor yang membuat Shila menjadi contoh hunian hijau yang patut dicontoh adalah kolaborasi pengembangnya. Shila dikembangkan oleh Vasanta Group bersama PT MC Urban Development Indonesia (MCUDI), anak perusahaan Mitsubishi Corporation. Kehadiran investor asing dengan rekam jejak global ini membawa standar baru dalam hal kualitas, ketepatan waktu, dan konsep hunian premium di kawasan pinggiran Jakarta. Presiden Direktur MCUDI, Kenji Ono, menegaskan bahwa fase pertama klaster Lake Vista telah selesai dan diserahkan tepat waktu pada Juli 2025. Komitmen ini memberikan nilai keamanan dan kepastian yang signifikan bagi konsumen. Khusus untuk kawasan The Peninsula, yang mencakup hunian CasaComo dan area komersial Peninsula District, pengembangannya diperkuat oleh kehadiran Samty Asia Investments Pte. Ltd., bagian dari Samty Group asal Jepang, sebagai investor strategis. Samty Asia hadir membawa pendekatan pengembangan presisi dan keberlanjutan yang khas Jepang. Managing Director Samty Asia Investments, Takuro Shikida, menambahkan bahwa Peninsula District akan menjadi simbol harmoni antara inovasi, alam, serta kualitas hidup modern yang mencerminkan esensi kehidupan ideal di tepi danau. Belajar dari Shila: Kunci Hunian Hijau yang Sukses Apa yang bisa kita pelajari dari Shila at Sawangan? Pertama, komitmen pada ruang terbuka hijau bukan sekadar angka, tapi filosofi yang dijalankan secara konsisten. Kedua, integrasi dengan alam—danau, creek, dan Gunung Salak—bukan sekadar latar, tapi bagian dari desain kawasan. Ketiga, kolaborasi dengan mitra global membawa standar kualitas yang tinggi dan kepastian bagi konsumen. Shila membuktikan bahwa hunian hijau bukan hanya tentang tanaman dan taman, tapi tentang menciptakan ekosistem yang sehat, asri, dan berkelanjutan—tanpa mengorbankan kenyamanan modern. Tertarik merasakan sendiri bagaimana rasanya tinggal di hunian yang selaras dengan alam? Temukan informasi selengkapnya tentang Shila at Sawangan dan berbagai pilihan hunian hijau modernnya di shila.co.id. Siapa tahu, ini saatnya kamu belajar langsung dari konsep hijau yang diterapkan di sana!